Kamis, 24 Februari 2011

Dua Periode

satu periode mewujudkan mimpi
satu periode lagi adalah mimpi buruk

satu periode memperjuangkan kebenaran
satu periode lagi takut disalahkan

satu periode semangat kebangsaan
satu periode lagi semangat kekeluargaan

periode pertama menjanjikan
periode kedua menjijikan

periode pertama menarik hati
periode kedua memakan hati

periode kedua hampir berakhir
secerdik-cerdiknya
selicin-licinnya
sebanyak-banyaknya
siapkan bekal masa tua
dari keringat orang lain
dari darah orang lain

Cantiknya Sang Petualang


Medina Kamil, Jejak Petualang - Trans7

Minggu, 20 Februari 2011

Forrest Gump


Kepala sekolahnya bilang “anak ibu tidak dapat diterima disekolah ini, karena IQnya hanya 75, dan seharusnya dia masuk sekolah khusus”. Namun, Ibu Gump tidak pernah menyerah agar anaknya dapat diterima disekolah yang normal dan anaknya diperlakukan seperti yang lainnya.
Orang selalu bertanya padanya “apakah kamu bodoh?”, dan dia selalu menjawabnya dengan kalimat” kata ibu, bodoh itu dari perbuatan”.
Forrest Gump, orang yang selalu dipandang tidak normal, mampu tumbuh menjadi manusia yang akhirnya berguna bagi kehidupan orang lain. Karena mampu berlari cepat, dia menjadi pemain football di SMA-nya hingga perguruan tinggi. Setelah lulus dia masuk Angkatan Darat dan ikut dalam perang Vietnam. Gump menyelamatkan seorang letnan dan beberapa prajurit lainnya dalam peperangan tersebut. Dia mendapatkan penghargaan dari militer.
Sepulang dari Vietnam, Gump dibebas tugaskan. Ia menjadi pemain pingpong terkenal dan menjadi selebritis. Setelah itu dia ingin menjadi pengusaha udang untuk menepati janjinya pada temain baiknya yang telah meninggal dalam peperangan. Usaha udang Gump sukses, dibantu oleh letnan yang pernah diselamatkannya, mereka menjadi orang kaya, bahkan mereka tidak perlu lagi memikirkan tentang uang.
Gump merenovasi Gereja, membangun sebuah rumah sakit dan menikahi seorang wanita yang dicintainya sejak ia kecil dan mempunyai seorang anak laki-laki.
Sebuah film yang menginspirasikan saya, dimana tingkat intelijensi seseorang tidak bisa menjadi ukuran bahwa seseoang dikatakan bodoh atau pintar. Karena bodoh terlihat dari perbuatannya. Gump dengan sikapnya yang tidak pernah takut untuk memulai sesuatu yang baru dan akan menjalaninya dengan sunguh-sungguh telah berhasil membuat hidupnya lebih berarti dan bermanfaat bagi orang lain.

Senin, 24 Januari 2011

Induk dan Ibu

Induk elang dengan sabar menyuapi anak-anaknya satu persatu
Dengan mulutnya yang Cuma Satu

Induk ayam akan marah jika anaknya diganggu
Siapapun yang menggangunya

Induk monyet tidak akan melepaskan anaknya
Sebelum anaknya kuat

Ibu memperhatikan aku dengan istimewa
Lebih istimewa dari cerita cinta

Terimakasih untuk
Ibunya elang
Ibunya ayam
Ibunya monyet
Ibuku

Karena kasih sayang di dunia ini
Berawal dari mereka

Rumah kayu di Pondok Indah


Pada 1995, kami pindah rumah dari gang Family, kecamatan Baamang menuju kecamatan Ketapang.
Gang Pondok Indah. salah satu gang yang ada dijalan H. Imran, dan menjadi gang untuk perumahan guru. Terdiri dari 11 rumah, beratapkan sirap, dinding kayu, dan gaya bangunan khas sebuah perumahan dinas menengah, berbeda sekali dengan Pondok Indah yang ada di Jakarta. Disinilah aku tinggal.
Seperti anak kecil kebanyakan, aku lebih banyak menghabiskan waktu diluar untuk bermain daripada diam dirumah. Pulang sekolah, rumah hanya dijadikan tempat untuk singgah makan dan ganti baju saja, lalu keluar bermain sampai sore. Terkadang ibu marah dan menyuruhku tidur siang, hal itu membuatku sakit hati, karena waktu bermainku akan berkurang.
Jendela kamar sering kulompati, saat pintu-pintu terkunci atau sebagai tempat melarikan diri saat ibu marah-marah. Atap rumah terkadang kunaiki jika sudah bosan bermain di tanah. Di bawah rumah adalah markas bagiku dan teman-teman. Dan pekarangan rumah sering kujadikan lokasi berkemah.
Masa-masa remaja tidak begitu ada perubahan. Rumah masih saja hanya sebagai tempat singgah untuk makan tidur saja bagiku. Ibu tidak tinggal diam, dia sering mengomel saat ku menampakkan mukaku saat matahari mulai terbenam.
Saat lulus SMA dan kuliah di Palangka Raya, ada sesuatu yang beda. Berbulan-bulan tinggal di kost, sering ku teringat akan rumahku. Rumah yang selama ini ikut membesarkanku, menyediakan tempat yang sejuk, pekarangan yang santai, dan tetangga yang sangat bersahabat.
Pulang kampung adalah saat-saat yang dinantikan. Karena terbayang sudah, aku akan rebahan dilantai kayu yang dingin sambil menonton tv, duduk diteras rumah dan mengobrol sampai larut malam, bermain kartu dirumah tetangga sampai subuh, dan suasana kekeluargaan yang sudah jarang didapati pada kota-kota.
Pada masa ini, aku kebanyakan dirumah. Menikmati rumah yang sudah berumur 15 tahun ini. Memperbaiki sirap yang sudah banyak terlepas dari tempatnya. Mengganti lantai kayu yang sudah rapuh dimakan usia. Mengecat dinding yang sudah kusam. Dan hanya bisa menatap plafon-plafon yang dilukis oleh rembesan air yang bocor dari atap rumah.
“Rumah ini sudah tua”, itulah yang ,menjadi alasan mengapa ibu ingin pindah dari rumah ini. Tak pernah terbayang aku akan meninggalkan rumah secepat ini. Tak seperti dalam pikiranku yang memprediksikan akan pindah setelah aku berkeluarga dan bisa membelikan rumah yang baru. Tapi inilah keputusan ibu, aku tidak menolaknya.
Berat rasanya harus meninggalkan rumah ini dan suasana sekitarnya. Aku masih ingin menikmati saat-saat duduk di teras sampai larut malam, membicarakan apapun yang mau dibicarakan, tak ada batasan.
Dari 12 keluarga penghuni pertama gang pondok indah, 6 keluarga sudah pindah dan digantikan penghuni yang baru. Rumahku kini ditempati orang baru dan akan dirawat oleh tangan yang baru. Dan mungkin akan menciptakan suasana yang baru.

Rabu, 15 Desember 2010

ajar

Pemulung ajarkan kami tentang perjuangan mencari makan
Anak-anak jual koran ajarkan kami semangat hidup
Janda-janda dan anak yatim-piatu ajarkan kami untuk kuat menghadapi kenyataan
Petani tua ajarkan kami tetap bertahan dalam masa susah
Dan…
Para pejabat dan akademisi ajarkan kami untuk korupsi

Jumat, 10 Desember 2010

Surat Untuk Pangeran

Salam bagimu pangeran
Apa kabarnya kerajaanmu?
Berapa banyak upetimu?

Kau disanjung oleh yang sejahtera
Gambarmu menghiasi kota
Sementara desa-desa berjuang
Mempertahankan tanah mereka

Tanah warisan untuk bertani, kau jual
Karena kau bukan petani
Dan kau merasa bukan lagi saudara petani

Tiada ampun bagi lahan kosong
Ratakan dengan tanah
Tanam sawit

Tingginya pendidikanmu
Sehingga dampak buruk sawit
Bukan ancaman bagimu

Karena kau bisa pergi kemanapun juga
Saat tanah semakin kering
Air semakin sedikit
Tak ada lagi kesejukan

Kelak jika kau punya cucu
Mungkin tak sebahagia dirimu waktu kecil
Yang menghabiskan waktu
Bermain dengan alam yang nyaman.